KP 700632.jpg

About Pearls

South Sea Pearl Story in Lombok

Merunut perkembangan mutiara air laut khususnya di Lombok, didapati kesulitan pencarian data-data lengkap, namun dari data dislutkan.ntbprov.go.id, data kemenperindag, BPS, LIPI dan beberapa sumber lain di website dapat dirangkum seperti yang tertulis di bawah ini.

 

Berawal di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara sekitar awal tahun 1918, percobaan budidaya mutiara air laut dilakukan oleh Dr. Sukeyo Fujita. Pada tahun 1928 hingga 1932, Fujita berhasil melakukan panen hasil budidaya  sebanyak 8,000 hingga 10,000 butir mutiara per tahun.

 

Dengan total produksi sebesar 36.670 butir antara tahun 1935-1938, dengan hasil panen mutiara berukuran  8 mm hingga 10 mm.  Ukuran mutiara tersebut dianggap sebagai suatu kerberhasilan, karena pada saat itu mutiara Akoya hanya berukuran sekitar 5 mm.

 

Sayangnya, karena alasan adanya Perang Dunia II yang terjadi kala itu, membuat pemerintahan militer Jepang  menutup usaha budi daya mutiara air laut yang dilakukan oleh Fujita.

 

Pada 1970 usaha budidaya mutiara di Indonesia baru mulai berkembang, hal ini karena dipicu adanya Peraturan Penanaman Modal Asing No. 11 dan Peraturan Penanaman Modal Dalam Negeri No. 12, yang mengizinkan perusahaan asing melakukan investasi di Indonesia.

 

Beberapa perusahaan mutiara asal Jepang seperti Nippo Pearl Company, Tayio Gyogyo Ltd., Arafura Pearl Company dan Kakuda Pearl Company, perusahaan-perusahaan tersebut, sebelumnya telah melakukan investasi di Australia. Sedangkan usaha budidaya mutiara di NTB & NTT dirintis oleh Alm. Pensiunan May.Jend. TNI-AD KRMH Jonosewojo Handayaningrat.

HAN_5853_edited.jpg

Usaha budidaya mutiara terinsipirasi dari Furuya (seorang tentara Jepang yang saat itu bertugas di Jawa Timur dan berada di area pertempuran Alm. Jonosewojo H. sebagai Panglima teritorial Jawa Timur). Furuya pernah bertugas di wilayah Indonesia bagian Timur, khususnya NTB dan NTT. Furuya melihat adanya potensi kerang mutiara yang cukup besar, sayangnya  hanya berburu kulit kerang.

 

Pada awal tahun 1982, Furuya dan Jonosewojo bersama merintis usaha budidaya mutiara di Tanjung Bero, Sumbawa, NTB. Kegiatan dimulai dengan mengumpulkan dan memelihara kerang alam dengan bekerja sama dengan perusahaan lokal bernama CV Siput Agung. Kerang yang dikumpulkan berasal dari NTB dan NTT.

 

Pada 08 Juli 1983 terbit Surat Persetujuan Tetap Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal No. 107/I/PMDN/1983, memberikan persetujuan PT Paloma Agung melakukan investasi PMDN dalam kegiatan usaha budidaya mutiara di NTB. Usaha ini mendapat dukungan positif dari Gubernur NTB saat itu Alm. Gatot Soeherman dan Bupati Sumbawa, Alm. Madilaoe. 

 

Tantangan yang dihadapi dalam usaha ini, di masa itu adalah banyaknya kegiatan pengumpulan kulit kerang yang merupakan kegiatan yang telah dilakukan sejak lama. Sehingga pada tahun 1985 dikeluarkan Peraturan Perikanan No. 9 untuk melindungi keberadaan kerang alam yakni dengan pelarangan pemburuan kerang alam untuk diambil kulitnya. Sehingga pengambilan kerang mutiara alam hanya dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan usaha budidaya mutiara. Sedangkan kebutuhan kulit kerang dipenuhi dengan hasil sisa usaha budidaya mutiara. Peraturan ini dinilai sangat membantu pengembangan usaha budidaya mutiara di NTB.

 

Selanjutnya, pada tahun 1985 dilakukan panen mutiara blister/mabe (mutiara setengah bundar) oleh Ir. Achmad Affandi, Menteri Pertanian. Mutiara blister/mabe di buat dengan menempatkan benda setengah bulat terbuat dari plastik di kulit kerang mutiara. Kemudian kerang mutiara akan melapisi benda asing tadi dengan lapisan seperti pada kulit kerangnya. Kira-kira satu tahun lamanya, lapisan tersebut  akan terbentuk cukup tebal dan blister/mabe sehingga sudah siap dipanen.

KP1200970-1.png
Icon Tahun-05.png

Panen perdana menghasilkan sebanyak 25 kilogram mutiara. Secara seremonial dilakukan oleh Presiden Soeharto dan Ibu Tien, yang menghasilkan devisa sebesar USD $600,000 Momentum ini menyebabkan terjadinya perubahan yang sangat cepat terhadap pertumbuhan ekonomi di NTB. Semenjak keberhasilan tersebut beberapa perusahan lain juga melakukan investasi budidaya mutiara di NTB dan NTT. Usaha budidaya mutiara NTB bahkan menghasilkan kulit kerang lebih dari 350 ton.

Icon Tahun-06.png

Usaha budidaya mutiara berkembang pesat di NTB dan NTT, sehingga terjadi pemburuan kerang mutiara alam dilakukan secara besar-besaran. Untuk mengantisipasi hal tersebut Dinas Tenaga Kerja NTB memfasilitasi berbagai training untuk mengurangi risiko dalam penyelaman. Masih di tahun yang sama, PT Paloma Agung mulai merintis pembiakan/breeding kerang mutiara di Desa Tano, Sumbawa dengan menggunakan tenaga teknisi lokal.

Icon Tahun-07.png

Penggunaan teknisi lokal untuk insersi dimulai. Namun, pertumbuhan jumlah teknisi lokal tidak seperti yang diharapkan, hal ini disebabkan antara lain karena mahalnya kerang mutiara untuk digunakan sebagai media untuk melatih teknisi lokal dan tidak adanya pembatasan dalam penggunan teknisi asing. Seperti diketahui untuk menjaga kualitas para teknisi mutiara, dibutuhkan keterampilan teknisi dengan minimal telah melakukan operasi (OP) minimal 10.000 kerang mutiara pertahun.

Icon Tahun-08.png

Usaha budidaya mutiara di Indonesia hampir sebagian besar sudah menggunakan kerang mutiara hasil breeding.

Icon Tahun-09.png

Usaha budidaya mutiara Indonesia mulai mengalami penurunan seiring dengan terjadinya penurunan harga mutiara, namun demikian jenis minat terhadap South Sea Pearl (SSP) yang berkualitas masih relatif tinggi.

Icon Tahun-10.png

Di era pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hingga tahun 2014 usaha/bisnis mutiara air laut kembali mengalami kenaikan baik dalam penjualan maupun minat masyarakat Indonesia bahkan mancanegara.

Icon Tahun-11.png

Pada tahun 2015 hingga sekarang, bisnis mutiara mengalami fase pasang-surut, kondisi terendah terjadi saat Lombok diguncang gempa bumi dengan skala 6,9 yang terjadi pada 28 Juli  dan 05 Agustus tahun 2018 dengan skala 7,0. Gempa bumi yang sempat menghancurkan bisnis mutiara karena sektor pariwisata juga terdampak besar. Belum bangkit dari keterpurukan, kembali bisnis mutiara terus mengalami keterpurukan akibat pandemi global COVID-19 pada sekitar Maret 2020 hingga saat ini (tahun 2021).

Pearl Story

Mutiara dikenal sebagai "Ratu Permata" dan dinobatkan sebagai permata tertua di dunia serta telah didambakan selama berabad-abad.

 

Mutiara dicintai dan dihargai sebagai simbol kemurnian dan kebahagiaan di seluruh dunia. Mutiara pertama telah ditemukan sekitar 5000 tahun yang lalu di Teluk Persia dan Laut Merah.

Tidak seperti batu permata yang ditambang dari bumi seperti berlian, rubi, safir, zamrud dan logam mulia seperti emas dan perak. Mutiara berasal dari organisme hidup menghasilkan mutiara dan faktanya keberadaannya sangat unik.

 

Mutiara terbentuk ketika bahan pengiritasi, seperti parasit atau cangkang, secara tidak sengaja bersarang di dalam tubuh bagian dalam tiram yang lembut, menyebabkannya mengeluarkan zat kristal yang disebut nacre, yang menumpuk di sekitar bahan pengiritasi berlapis-lapis sampai mutiara terbentuk.. Mutiara yang dibudidayakan terbentuk melalui proses yang sama, satu-satunya perbedaan adalah bahwa zat pengiritasi ditanamkan ke dalam tiram daripada masuk secara kebetulan.

Akoya Nacre Overtone Pink.jpg
edt_Monday00161.jpg

Mutiara dapat ditemukan, atau dibudidayakan, di air tawar atau air asin (laut) dan ada beberapa jenis mutiara yang berbeda tergantung dari moluska mana ia berasal. Mutiara air tawar yang dibudidayakan diproduksi terutama di China dan dengan hasil dalam jumlah yang relatif banyak per sekali panen, harganya lebih terjangkau daripada mutiara air asin/laut.

Mutiara air asin termasuk mutiara Akoya dan Tahiti yang disebutkan di atas, yang berasal dari Tahiti dan pulau-pulau lain di Polinesia Prancis. Mutiara Laut Selatan berasal dari Australia, Indonesia dan Filipina. Yang terakhir adalah yang terbesar dari semua varietas mutiara dan tersedia dalam warna putih, krem ​​atau emas dengan ukuran mulai dari 9mm hingga 20mm. Mutiara Tahiti juga dikenal sebagai mutiara hitam, meskipun spektrum warnanya juga termasuk abu-abu, biru, hijau dan ungu.

Seperti halnya batu permata, kualitas mutiara ditentukan oleh beberapa kriteria termasuk ukuran, bentuk, warna dan kilau. Faktor penting yang harus diperhatikan adalah ketebalan nacre karena hal ini tidak hanya menentukan kilau tetapi juga berapa lama akan bertahan. Tidak seperti berlian yang lebih kuat, mutiara membutuhkan sedikit “treatment khusus” untuk memastikannya tetap terlihat murni. Perhiasan mutiara harus selalu disimpan terpisah dari berlian untuk memastikan batu yang lebih keras tidak menggores permukaannya

Baroque adalah istilah yang diterapkan pada mutiara yang tidak simetris, dan bentuk tidak beraturan ini lebih umum ditemukan pada mutiara air tawar. Meskipun mutiara bundar sempurna secara tradisional menjadi yang paling didambakan, mutiara Laut Selatan atau Tahiti bergaya barok sering digunakan dalam perhiasan kontemporer yang unik untuk efek yang bagus.

20210701_180313.jpg